Senin - Jumat07:00-21:00Sabtu07:00-13:00Hubungi kami+0315921101

Blog

artikel-2024-01-06T104358.445.png
admin ku
06/Jan/2024

Mimisan pada anak umumnya tidak berbahaya sehingga tidak perlu dikhawatirkan. Namun pertolongan pertama yang kompeten berdasarkan penyebabnya diperlukan untuk menghentikan pendarahan akibat mimisan pada anak.

Mimisan mungkin terjadi pada semua orang. Namun, mimisan lebih sering terjadi pada anak-anak dibandingkan pada orang dewasa. Sebab, pembuluh darah di lubang hidung anak lebih halus dan mudah pecah.

 

Kenapa Anak bisa Mimisan

Mimisan pada anak bisa terjadi kapan saja, misalnya saat bermain, belajar di sekolah, atau bahkan tidur. Situasi ini bisa muncul akibat udara yang terlalu kering atau iklim yang panas.

Menghembuskan napas terlalu kuat, seperti saat membuang ingus, atau mengupil terlalu dalam juga bisa mengakibatkan mimisan pada anak. Selain itu, ada beberapa kelainan yang dapat menyebabkan mimisan pada anak, antara lain:

  • Cedera atau benturan pada hidung
  • Ada benda yang masuk ke hidung.
  • Kelainan bentuk hidung dan pembuluh darah
  • Infeksi dan Alergi
  • Hemofilia dan penyakit pembekuan darah lainnya
  • Beberapa obat memiliki efek samping.

 

Penanganan Anak Mimisan

Berikut tahapan awal pengobatan mimisan pada anak:

  • Tenangkan anak tersebut sehingga Anda dapat membantunya. Tunjukkan kemampuan Anda untuk tetap tenang dalam menghadapi kesulitan.
  • Tempatkan anak muda itu telentang dengan kepala sedikit menunduk. Minta dia untuk tidak bersandar untuk menghindari darah mengalir dari saluran hidung bagian dalam ke leher, kerongkongan, atau keluar melalui mulut. Anak muda berisiko tersedak, batuk, atau muntah jika hal ini terjadi.
  • Gunakan tisu atau handuk bersih untuk menutupi hidung Anda. Hindari memasukkan tisu atau kain ke dalam hidung Anda.
  • Selama kurang lebih 10 menit, cubit hidung anak dengan lembut. Setelah 10 menit, kendurkan tekanan dan periksa apakah pendarahan telah berhenti.
  • Jika pendarahan belum juga berhenti, ulangi prosedur ini atau gunakan handuk yang dibasahi air dingin untuk menekan batang hidung anak guna menghentikan pendarahan.

Anda juga harus tanggap saat mengevaluasi kondisi anak Anda. Jika anak Anda mengalami salah satu gejala berikut, segera bawa dia ke rumah sakit:

  • Sudah memberikan pertolongan pertama dengan mencubit hidungnya dua kali selama 10 menit, namun pendarahannya belum juga berhenti. Anak tersebut tampak lemah dan pucat, kesulitan bernapas, dan detak jantung atau denyut nadinya cepat.
  • Diperkirakan darah yang keluar terlalu banyak.
  • Karena darah dari hidung sudah mengalir ke tenggorokan dan mulut, anak tersebut batuk hebat atau muntah, atau mungkin tertelan.
  • Daerah lain di tubuh, seperti gusi, juga mengalami pendarahan.
  • Mimisan sering terjadi, minimal dua kali seminggu.

 

Jika Anda mengalami gangguan kesehatan dan membutuhkan penaganan segera, Anda bisa kunjungi Klinik Dharmahusada Premiere untuk mendapatkan pengobatan dan penanganan yang Anda butuhkan.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa hubungi kami di:

  • 0315921101

Atau Anda bisa kunjungi Klinik Dharmahusada Premiere di Jl. Raya Dharma Husada Indah No.26, Mojokerto, Kec. Gubeng, Surabaya


artikel-80.png
admin ku
26/Oct/2023

Saat hamil, salah satu perawatan normal yang harus dilakukan ibu hamil adalah pemantauan laboratorium kehamilan. Pemeriksaan ini dapat membantu mendeteksi masalah kesehatan yang mungkin timbul selama atau setelah kehamilan. Temuan tes laboratorium dapat memberikan informasi tentang bahaya kesehatan yang mungkin dialami ibu hamil selama kehamilannya. Hal ini juga membantu dokter dalam merencanakan terapi dan aktivitas yang sesuai untuk menjaga kesehatan ibu dan janin.

 

Jenis Cek Lab Ibu Hamil

Berikut berbagai jenis cek lab kehamilan beserta manfaatnya yang perlu kamu tahu:

  • Tes darah komprehensif
    Tes darah komprehensif dapat membantu menilai jumlah sel darah wanita hamil. Wanita hamil dapat menggunakan tes ini untuk mengetahui apakah jumlah sel darah merah ibunya normal atau rendah secara tidak normal. Jumlah sel darah merah yang rendah mungkin merupakan tanda awal anemia. Tes darah lengkap juga akan mengungkapkan jumlah sel darah putih dan trombosit dalam tubuh. Jika jumlah sel tersebut bertambah, besar kemungkinan sang ibu terinfeksi. Tes ini juga dapat mengidentifikasi jumlah zat besi dan nutrisi lain dalam tubuh, sehingga dokter dapat menilai apakah ibu mengalami kekurangan gizi atau tidak.
  • Kadar gula dalam darah
    Ibu hamil juga harus memantau kadar gula darahnya secara rutin. Pemeriksaan tersebut dimaksudkan untuk mencegah timbulnya penyakit diabetes. Beberapa wanita hamil menderita diabetes gestasional. Penyakit ini menyerang sekitar 10-15% ibu hamil. Masalah kesehatan ini dapat meningkatkan risiko hipertensi pada ibu hamil dan menimbulkan berbagai masalah kesehatan pada janin.
  • Golongan darah
    Tujuan dari tes ini adalah untuk mengetahui apakah ibu memiliki golongan darah A, B, AB, atau O. Tes golongan darah dilakukan satu kali saja. Mengetahui golongan darah Anda mungkin membantu Anda mendapatkan bantuan cepat jika ibu membutuhkan sumbangan. Misalnya saja jika seorang wanita mengalami pendarahan hebat saat hamil atau melahirkan. Selain itu, golongan darah juga diperiksa antibodi rhesusnya. Tes ini akan mengidentifikasi keberadaan antibodi rhesus yang dapat berdampak pada janin.
  • Skrining untuk infeksi
    Tes darah di awal kehamilan akan menyaring banyak penyakit yang mungkin berdampak pada bayi Anda yang belum lahir. Selama pemeriksaan antenatal awal, para ibu biasanya melakukan tes skrining untuk mengidentifikasi penyakit menular ini.
  • Deteksi kelainan genetik
    Ada beberapa kelainan genetik yang perlu diwaspadai Moms sebelum melahirkan. Oleh karena itu, jika ibu dan pasangan memiliki riwayat masalah genetik dalam keluarga, dokter mungkin merekomendasikan tes genetik selama kehamilan.
  • Skrining untuk Alfa-Fetoprotein (AFP)
    Tes laboratorium prenatal penting lainnya untuk wanita hamil adalah pemeriksaan AFP, yang mengukur protein dalam darah. AFP adalah protein yang ditemukan dalam cairan ketuban yang biasanya dihasilkan oleh hati janin.
  • Analisis hemoglobin
    Anemia merupakan masalah kesehatan yang umum terjadi pada ibu hamil. Masalah kesehatan ini muncul akibat peningkatan volume darah. Anemia tidak hanya menyebabkan ibu kelelahan, tetapi juga berisiko mengalami pendarahan saat hamil atau melahirkan karena kekurangan zat besi. Jadi, saat ibu hamil diperiksa laboratorium, dia bisa melakukan tes hemoglobin untuk mengetahui anemia.
  • pemeriksaan TORCH
    Pemeriksaan TORCH juga merupakan salah satu pemeriksaan laboratorium yang disarankan bagi ibu hamil. Tes ini merupakan kumpulan tes darah yang digunakan untuk mendiagnosis toksoplasmosis, rubella, CMV, herpes simplex, dan HIV.
  • Pemeriksaan oleh VDRL (Laboratorium Penelitian Penyakit Kelamin)
    Tes VDRL adalah sejenis tes yang digunakan untuk mengidentifikasi ada tidaknya sifilis di dalam tubuh. Untuk menghindari penularan kondisi ini ke janin, sebaiknya ibu hamil menjalani tes VDRL.
  • Tes Prenatal Non-Invasif (NIPT)
    Tujuan dari tes ini adalah untuk memastikan salinan kromosom pada janin sudah lengkap. Dokter akan menyelidiki dan menentukan kemungkinan terjadinya sindrom Down berdasarkan jumlah kromosom janin dengan mengumpulkan sampel darah.
  • Tes urin atau sering disebut dengan urinalisis
    Tes urine pada ibu hamil dapat digunakan untuk menilai masalah kesehatan dan perkembangan penyakit selain untuk menentukan kehamilan. Dokter atau ahli medis dapat menggunakan urinalisis untuk mendeteksi timbulnya diabetes, infeksi ginjal, atau indikasi penyakit hati. Itulah penjelasan mengenai pemeriksaan darah saat hamil; pastikan wanita tersebut melakukan semua pemeriksaan yang dianjurkan oleh dokter ya. Ketahui juga kapan waktu terbaik untuk melakukan tes kehamilan.
  • Pengujian BTA (Bakteri Tahan Asam)
    Pemeriksaan BTA dilakukan untuk mendeteksi apakah ibu mengidap TBC atau tidak. Hal ini dilakukan tidak hanya untuk mendiagnosis dan mencegah penyakit paling serius pada ibu, tetapi juga untuk melindungi janin dalam kehamilan.
  • Tes darah malaria
    Pemeriksaan semacam ini terutama dilakukan pada ibu-ibu yang tinggal di daerah rawan malaria. Sebaliknya, ibu hamil yang tidak tinggal di daerah endemis sebaiknya menjalani tes darah malaria jika ada tanda-tandanya.

Desain-tanpa-judul-2023-02-14T143150.893.png
3dpotr876
13/Feb/2023

Selama tahun pertama usia bayi, orang tua akan banyak belajar tentang cara si kecil berkomunikasi. Dengan memahami perbedaan tangisan bayi, orang tua akan memahami saat bayi sakit atau sehat.

Penyakit pada bayi yang sering terjadi

Seringkali, tangisan menjadi indikasi bayi merasa tidak nyaman atau sakit. Berikut adalah beberapa penyakit umum pada bayi yang sering dihadapi selama tahun pertama kelahirannya.

1. Gastroesophageal reflux disease (GERD)

Penyakit pada bayi GERD ditandai dengan bayi rewel

Penyakit pada bayi ini terjadi saat asam lambung naik ke esofagus sehingga menimbulkan rasa sakit, panas pada dada, mual, muntah, dan erosi gigi atau kerusakan gigi karena asam lambung tersebut. Penyebabnya adalah katup antara esofagus dan otot perut bayi belum tumbuh sempurna.

Buah hati akan lebih rewel, menangis terus menerus, dan kolik. Gejala lain termasuk muntah atau meludah dan gerakan mengangkat kaki ke atas atau melengkungkan punggungnya. Terkadang, suara bayi terdengar serak atau berserdawa.

Kolik pada GERD ini seharusnya sudah reda saat memasuki usia 3 bulan. Namun, jika kolik masih terjadi meski sudah melampaui usia 3 bulan, bawa si kecil ke dokter untuk mendapat diagnosis lebih lanjut

2. Pilek

Infeksi virus dituding sebagai penyebab utama pilek sebagai penyakit pada bayi yang membuat selaput hidung dan saluran pernapasan memproduksi lendir.

Bayi akan mengalami demam sebagai salah satu gejalanya. Kadang sulit bernapas, batuk, napas tersengal-sengal, dan pola makan atau tidur terganggu. Bayi juga mengalami bersin atau kadang nafsu makan menurun.

3. RSV

Penyakit pada bayi RSV dapat menyebabkan radang paru-paru

RSV, atau Respiratory Syncytial Virus, adalah virus yang menyerang saluran pernapasan bayi di tahun pertama kelahirannya dan bisa berpotensi sangat serius. Penyakit pada bayi ini lebih berisiko menjangkiti bayi prematur.

Penyakit bayi ini adalah penyebab utama rawat inap gangguan pernapasan anak-anak di bawah usia 1 tahun.

Gejala RSV antara lain pilek, demam, batuk, dan sesak napas. Gejala-gejala ini dapat berlangsung selama beberapa minggu. Jika virus menginfeksi saluran bronkus, maka dapat menyebabkan penyakit bronkitis dan radang paru-paru.

4. Sulit buang air besar

Setelah bayi mengonsumsi makanan padat, penyakit bayi yang umum terjadi adalah sulit buang air besar. Feses yang keras akan terasa sakit saat ingin dikeluarkan. Akibatnya, bayi jadi enggan toilet training.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, kesulitan buang air besar ini dapat disebabkan karena nyeri karena tinja yang keras, kurang asupan cairan, dan trauma, misalnya di toilet ada kecoa yang membuat mereka takut. Jika bayi tidak BAB, maka tinja akan semakin keras karena air diserap oleh dinding usus,

Untuk memeriksa apakah bayi mengalami kesulitan buang air besar, perhatikan frekuensi BAB dan tekstur fesesnya.

5. Diare

Diare umum ditemukan sebagai penyakit pada bayi

Penyakit pada bayi yang satu ini memang umum menyerang. Bayi yang terkena diare akan sering buang air besar dan teksturnya sangat encer tanpa ampas.

Penyebab diare dipicu oleh virus, tetapi bisa juga bakteri, alergi, atau obat-obatan tertentu. Bahaya yang mengintai penyakit bayi ini adalah dehidrasi. Sebab, bayi akan kehilangan banyak cairan tubuh.

Waspadai gejala-gejala dehidrasi pada bayi akibat diare sebagai berikut:

  • Lemas
  • Rewel
  • Mata cekung
  • Ubun-ubun cekung
  • Buang air kecil sedikit
  • Elastisitas kulit menurun

Surabaya-Skin-Centre-Klinik-Spesialis-Kulit-Pusat-Laser-SSC-SSCSurabaya-Klinik-Kecantikan.png
admin ku
31/Mar/2022

Kompres dingin adalah trik klasik untuk meredakan demam yang diwariskan turun-temurun sejak zaman nenek moyang. Namun tahukah Anda ternyata cara ini salah dan malah bisa membahayakan tubuh?

Demam adalah respon alami tubuh untuk melawan infeksi yang disebabkan oleh virus atau bakteri. Seseorang dikatakan sakit demam ketika suhu tubuhnya lebih tinggi dari 37º Celsius, badannya menggigil atau berkeringat, dan merasa lemas, sakit kepala, hingga nyeri di sekujur tubuhnya.

Cara favorit orang-orang untuk meredakan demam adalah dengan merendam kain ke dalam wadah air berisi es batu dan menempelkannya di dahi. Suhu dingin dianggap dapat menyerap panas tubuh sehingga demam akan cepat turun.

Padahal, dokter dan pakar kesehatan di seluruh dunia tidak pernah menganjurkan kita untuk kompres dingin ketika sedang demam. Demam adalah cara tubuh untuk menjaga suhunya tetap normal. Namun, rangsangan suhu dingin dari kompres tersebut justru dianggap sebagai ancaman oleh sistem imun Anda sehingga tubuh akan semakin meningkatkan suhunya. Akibatnya, demam malah tidak kunjung turun — malah mungkin bisa makin parah.

Itu sebabnya hindari pakai kompres dingin atau berendam air dingin ketika demam. Kompres dingin lebih tepat untuk mengatasi peradangan atau pembengkakan, misalnya kaki yang keseleo atau kepala benjol terbentur pintu.

Cara Mengatasi Demam pada Anak

Ingat, tidak semua demam perlu diobati. Dalam kebanyakan kasus, demam harus diobati hanya jika itu menyebabkan ketidaknyamanan anak. Berikut cara meredakan gejala demam yang bisa dilakukan selain memberikan kompres:

Kompres dengan suhu yang tepat

Air yang diperlukan untuk mengompres anak demam yakni air yang memiliki suhu tidak melebihi suhu tubuh anak. Dengan demikian, suhu air yang paling baik untuk mengompres anak demam biasa adalah 27-34 derajat Celsius. Sementara, apabila anak mengalami demam dengan suhu tubuh mencapai lebih dari 39 derajal Celsius, akan lebih baik jika dikompres dengan air hangat yang lebih panas mencapai 34-37 derajat Celcius.

Obat

Jika anak rewel atau tidak nyaman, ibu bisa memberikan asetaminofen atau ibuprofen berdasarkan rekomendasi dokter. Namun, jangan pernah memberikan aspirin kepada anak karena ini berhubungan dengan sindrom Reye. Pastikan memberikan obat demam dengan dosis yang sudah mendapat persetujuan dari dokter.

Tindakan untuk Membuat Anak Nyaman

Pakaikan anak dengan pakaian yang ringan dan tutupi dengan seprai atau selimut tipis. Memakaikan anak pakaian atau selimut tebal malah dapat mencegah panas tubuh keluar dan dapat menyebabkan suhu terus naik. Pastikan juga kamar tidur anak memiliki suhu yang nyaman — tidak terlalu panas atau terlalu dingin.

Berikan Makanan dan Minuman

Tawarkan banyak cairan untuk menghindari dehidrasi karena demam membuat anak kehilangan cairan lebih cepat dari biasanya. Air, sup, es loli, dan buah adalah pilihan yang baik. Hindari minuman yang mengandung kafein, termasuk cola dan teh, karena dapat memperburuk dehidrasi dengan memperbanyak buang air kecil. Secara umum, biarkan anak-anak makan apa yang mereka inginkan dalam jumlah yang wajar, tetapi jangan memaksanya jika mereka tidak menyukainya.

Istirahat 

Pastikan anak cukup istirahat, tetapi jangan biarkan ia hanya tidur seharian. Hal yang terpenting adalah tetap membuat anak tenang selama demam.


Desain-tanpa-judul-14.png
admin ku
30/Mar/2022

Banyak orang tua yang berpikir anak-anak belum stabil secara mental dan emosional. Bila melakukan kesalahan pola asuh, tak akan memengaruhi kesehatan mentalnya. Ternyata, kesehatan mental anak sama pentingnya dengan orang dewasa, lo. Bahkan, bisa berkaitan dengan kemampuan bersosialisasinya ketika dewasa nanti.

Kesehatan mental menjadi isu serius di kalangan anak remaja. Isu stres, depresi, dan bipolar makin sering terdengar datang dari anak remaja tersebut. Bahkan, tak jarang beberapa remaja menjadi rentan bunuh diri karena orang tua tidak mengenali kesehatan mental tersebut sejak awal.

Itu sebabnya, Anda sebagai orang tua perlu mengenali persoalan kesehatan mental sejak anak masih usia balita. Anda pun harus memperhatikan pola asuh dan memberikan kasih sayang supaya anak bertumbuh dengan mentalitas baik.

Tips Mengajarkan Anak untuk Menjaga Kesehatan Mental

Meskipun bukan definisi yang sempurna, namun dari definisi tersebut dapat diketahui poin-poin penting yang membantu orangtua dalam mengajarkan anak tentang menjaga kesehatan mental. Berikut tips-tipsnya:

1.Ajari Anak Cara Mengelola Emosi

Ketika masih bayi, anak memberitahu orangtua bila ia sedang tidak nyaman baik secara fisik maupun emosional dengan menangis. Jadi, ketika bayi menangis, orangtua akan mencoba menghibur anak dengan memeluknya, memberi makan, menenangkannya, dan lain-lain.

Namun, seiring bertambahnya usia, orangtua perlu membiarkan anak untuk menyadari akan perasaan emosional yang membuatnya tidak nyaman dan belajar bagaimana cara menghibur dan membantu diri mereka sendiri. Inilah yang dinamakan dengan regulasi emosional.

Dengan demikian, anak dapat mengenali gangguan emosional yang ia miliki dan dapat memenuhi kebutuhan emosionalnya sendiri tanpa harus mengecewakan orang lain. Regulasi emosional adalah kunci untuk kesehatan mental dan kebahagiaan jangka panjang.

2.Memecahkan Masalah dan Beradaptasi dengan Lingkungan

Orang yang sehat secara mental tahu bahwa ia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, termasuk memahami kapan harus meminta bantuan dari orang lain atau orang yang ahli.

Nah, cara mengajarkan anak tentang menjaga kesehatan mental adalah mendorong anak untuk memecahkan masalah mereka sendiri yang sesuai dengan usianya. Misalnya, anak usia 2 tahun bisa mencari mainan favoritnya yang hilang dengan bantuan ibu, atau anak usia 7 tahun dapat belajar menentukan untuk membeli buku yang ia butuhkan.

Seiring berjalannya waktu, anak dapat belajar bahwa ia mampu memecahkan masalahnya sendiri, dan tumbuh menjadi orang yang terampil memecahkan masalah dengan mengatasi tantangan yang semakin sulit. Si Kecil juga tahu kapan ia membutuhkan ibu sebagai orang yang dapat membantunya.

3.Ajarkan Anak Cara Mengembangkan dan Menjaga Hubungan yang Penuh Kasih, Hormat, dan Bahagia

Ibu sebenarnya tanpa sadar sudah mengajarkan pelajaran ini sejak ibu pertama kali bertemu dengan Si Kecil, alias saat anak dilahirkan. Ibu mencintai dan melindungi anak agar tetap aman. Saat anak bertumbuh, mereka pun dapat berinteraksi dan mengembangkan hubungan penuh kasih dengan keluarga, teman-teman yang terus meluas, serta orang lain di komunitas mereka.

Selain itu, orangtua juga perlu memberi contoh bagaimana bernegosiasi ketika ada perbedaan pendapat di antara orang dewasa dalam sebuah hubungan. Lalu, ibu juga bisa mengajarkan anak-anak bagaimana cara mengatasi konflik ketika mereka memperebutkan mainan yang sama misalnya. Dengan memberikan contoh dan pengajaran, ibu mengajarkan anak bagaimana cara memperlakukan orang lain ketika ada perbedaan pendapat sebelum pertengkaran merusak hubungan yang penting.

4.Memenuhi Kebutuhan Psikologis untuk Keamanan, Kekuatan, Kesenangan, Kebebasan dan Cinta Setiap Hari

Tiap orang dilahirkan dengan instruksi genetik untuk memenuhi kebutuhan psikologis mereka akan keamanan, cinta, kekuasaan, kesenangan dan kebebasan. Meskipun anak dilahirkan dan didorong untuk memenuhi kebutuhan ini, tapi mereka tidak tahu bagaimana cara memenuhi kebutuhan tersebut secara bertanggung jawab dan terhormat.Jadi, tugas orangtua adalah mengajarkan anak-anak untuk memenuhi kebutuhan psikologis mereka dengan cara yang tidak menghalangi orang lain untuk memenuhi kebutuhan mereka.


Desain-tanpa-judul-16.png
admin ku
26/Mar/2022

COVID-19 varian Omicron belakangan ini semakin ‘ngegas’ di Indonesia. Sama seperti varian COVID-19 lainnya, Omicron tak hanya menyerang orang dewasa, lansia, dan komorbid, tetapi juga bisa menyerang anak-anak, termasuk balita dan bayi.

Sebuah penelitian baru-baru ini menemukan bahwa ada salah satu gejala yang khas dari infeksi Omicron pada anak-anak, yaitu batuk parau atau croup. Berikut ini pembahasannya!

Batuk Parau Jadi Gejala Omicron pada Anak

Para peneliti menemukan total 401 pasien anak di UGD yang didiagnosis batuk parau atau croup selama gelombang Delta, dan 107 selama gelombang Omicron. Selama lonjakan Omicron, kasus croup meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.

Dalam studi sebelumnya yang diterbitkan pada 21 Desember 2021, peneliti menemukan bahwa 2,4 persen anak-anak berusia 13 tahun ke bawah yang dirawat di rumah sakit di satu daerah Afrika Selatan karena COVID-19 yang disebabkan oleh Omicron juga memiliki diagnosis batuk parau atau croup.

Batuk parau atau croup biasanya disebabkan oleh virus pernapasan parainfluenza. Ini terjadi ketika saluran udara bagian atas mengalami peradangan, sehingga sulit untuk bernapas. Karena anak-anak memiliki saluran udara yang lebih kecil daripada orang dewasa, ini lebih sering terjadi pada anak-anak.

Peradangan di kotak suara, tenggorokan, dan saluran bronkial ini menyebabkan anak mengalami batuk khas yang keras. Beberapa orang menyebut suara batuk ini seperti anjing laut yang menggonggong. Ketika anak bernapas, ia juga bisa mengeluarkan siulan bernada tinggi yang dikenal sebagai stridor.

Dalam beberapa kasus, gejala Omicron pada anak ini bisa hilang setelah sekitar lima hari. Namun, beberapa anak lainnya juga bisa mengalami yang lebih parah, sehingga gejalanya tidak hilang hanya dengan perawatan rumahan.

Waspadai Gejala Lainnya

Selain batuk parau, ada beberapa gejala Omicron pada anak lainnya yang juga perlu diwaspadai, yaitu:

  • Demam.
  • Pilek.
  • Batuk yang terdengar lebih biasa.
  • Ruam.

Gejala Omicron pada anak juga bisa mirip seperti gejala pada orang dewasa. Oleh karena itu, waspadai juga beberapa gejala berikut:

  • Sesak napas atau kesulitan bernapas.
  • Kelelahan.
  • Nyeri otot.
  • Sakit kepala.
  • Hilangnya kemampuan indra penciuman dan perasa.
  • Sakit tenggorokan.
  • Hidung tersumbat.
  • Mual atau muntah.
  • Diare.

Tips Perawatan Rumahan untuk Batuk Parau

Batuk parau atau croup sebagai gejala Omicron pada anak tentu dapat membuat ibu khawatir. Namun, jika dokter menyatakan bahwa gejala infeksi yang dialami ringan hingga sedang, biasanya cukup dengan perawatan rumahan.

Berikut beberapa tips perawatan rumahan saat anak mengalami batuk parau akibat Omicron:

  • Bawa anak ke udara yang sejuk. Ini dapat membantu menenangkan saluran pernapasan dan memudahkan mereka untuk bernapas.
  • Gunakan alat penguap di kamar anak di malam hari.  Udara hangat dan lembap yang dihasilkan oleh alat penguap membantu mengendurkan pita suara.
  • Mandi air hangat. Uap dari air hangat dapat membantu meringankan gejala batuk yang dialami.
  • Cobalah untuk membuat anak tetap tenang. Anak-anak biasanya dapat bernafas lebih baik saat tidak menangis.

Itulah pembahasan mengenai gejala khas Omicron pada anak. Meski mungkin perlu penelitian lebih lanjut, saat ini diketahui bahwa batuk parau menjadi salah satu gejala khas yang perlu diwaspadai.

Jika anak terinfeksi COVID-19 varian Omicron, berdiskusilah dengan dokter untuk mendapatkan penanganan terbaik. Jika dokter meresepkan obat untuk diminum di rumah, download aplikasi Halodoc saja untuk cek kebutuhan obat dan vitamin anak dengan mudah.


Desain-tanpa-judul-17.png
admin ku
25/Mar/2022

Gadget tidak jarang dijadikan senjata ampuh para orangtua untuk membuat anak tenang sekaligus betah di rumah. Sayangnya, jika hal ini terlalu sering dilakukan, justru dapat menyebabkan anak kecanduan gadget.Mengatasi anak kecanduan gadget merupakan hal yang perlu Anda upayakan sebisa mungkin. Sebab masalah tersebut dapat mengganggu proses belajar dan tumbuh kembang anak. Kebiasaan ini juga dapat memicu anak mengalami kecanduan game online

Lalu, bagaimana cara menghadapi anak kecanduan HP? Tips-tips berikut semoga bisa membantu.

1. Perbanyak aktivitas bermain secara langsung

Pastikan mereka menghabiskan lebih banyak waktu untuk bermain dan belajar secara langsung bukan dari layar.Selain mencegah dari ketergantungan pada ponsel, bermain di luar rumah bermanfaat untuk mendukung kesehatan tubuh anak.

2. Jadilah contoh yang baik

Anak belajar dari lingkungan sekitarnya bahkan anak meniru kebiasaan orangtuanya. Jika Anda terlihat sering bermain gadget, anak pasti akan mengikuti kebiasaan tersebut.Jika Anda tidak ingin si kecil sibuk bermain smartphone, Anda sendiri juga harus mampu mengatur waktu untuk menggunakan alat tersebut secara bijak.

3. Terapkan gaya pengasuhan jaman dulu

Tidak dipungkiri, gadget seringkali menjadi “asisten” Anda dalam mengasuh anak, terutama bila Anda sedang sibuk dengan urusan pekerjaan atau rumah tangga.Padahal, kalau dipikir-pikir, orangtua di masa lalu tetap bisa melaksanakan semua pekerjaan dengan baik di saat belum ada penemuan teknologi tersebut sama sekali.

Hal itu bisa jadi karena mereka pandai mengatur waktu dengan baik antara mengasuh anak sekaligus mengurus rumah tangga.Anak-anak di masa lalu juga sudah banyak membantu pekerjaan orangtuanya sejak usia dini. Selain meringankan pekerjaan Anda, hal itu juga dapat melatih kemandirian anak.Demi mengatasi anak dari kecanduan gadget, cobalah menerapkan kembali gaya pengasuhan jaman dulu. Anggap saja perangkat tersebut tidak ada dalam kehidupan kita.

4. Dampingi anak saat belajar online

Menggunakan gadget sebenarnya tidak selalu berarti negatif. Seiring perkembangan dunia teknologi, beberapa sekolah bahkan menerapkan penggunaan perangkat tersebut untuk membantu anak belajar.

Apalagi sejak masa pandemi Coronavirus, anak usia sekolah menjadi lebih banyak belajar dari rumah dan menggunakan internet untuk berinteraksi dengan guru dan teman-temannya.Namun, sebaiknya Anda tidak lengah. Untuk mencegah dan mengatasi anak dari kecanduan gadget, pastikan Anda selalu mendampinginya saat belajar secara online.

5. Menyewa jasa pengasuh

Jasa pengasuh memang harganya cenderung mahal. Namun, bila Anda tidak punya cukup waktu untuk mengasuh anak, hal ini sebaiknya Anda pertimbangkan.Daripada anak setiap hari “diasuh” oleh smartphone, alangkah lebih baik bila ia diasuh oleh manusia, bukan?

Lalu untuk mengatasi anak dari kecanduan gadget, tetapkan aturan yang ketat pada pengasuh tersebut.Mintalah ia menemani anak bermain secara langsung, bukan malah memberikan perangkat tersebut agar anak tenang.Bila memungkinkan, pasanglah kamera pengintai (CCTV) di rumah untuk membantu Anda mengawasi kegiatan si kecil dan pengasuhnya.

6. Hindari meletakkan gadget sembarangan

Anak menjadi mengenal gadget dan terikat dengannya bila ia dapat mengakses alat tersebut dengan mudah.Oleh sebab itu, untuk mengatasi anak kecanduan gadget, hindarilah meletakkannya sembarangan. Pastikan pula area kamar tidur anak bebas dari alat tersebut.

Bila gadget ia butuhkan untuk urusan sekolah, awasi dan batasi penggunaannya seketat mungkin.Beri batas waktu ia boleh menggunakan perangkat tersebut dan cegah dia membuka aplikasi-aplikasi lainnya yang tidak berhubungan dengan kebutuhan sekolah.

7. Perbanyak aktivitas di luar atau di dalam rumah

Meningkatkan aktivitas anak di dalam rumah atau di luar rumah bisa menyita perhatian anak dan lupa dengan ponsel pintarnya.Hal ini bisa menjadi salah satu cara jitu untuk mengatasi anak yang sedang kecanduan HP.

Cobalah mengajak anak untuk lari pagi atau bersepeda di hari libur, memasak bersama, atau berkunjung ke rumah saudara. Intinya, kegiatan apapun yang membuat anak kembali aktif.Catat daftar kegiatan yang memungkinkan untuk dilakukan dan buatlah jadwalnya sehari-hari.Hal ini dapat membantu Anda dalam menemukan ide kegiatan yang menarik agar anak tidak bosan.

8. Bersikap tegas dan konsisten

Melepaskan anak dari gadget kesayangannya dapat membuatnya tantrum. Kondisi ini memang sulit dihadapi. Akan tetapi ingat, Anda harus tetap tegas untuk menerapkan aturan yang sudah dibuat.

Jangan sampai Anda iba dengan rengekan si kecil. Ingat selalu tujuan Anda yaitu mengatasi anak dari kecanduan gadget yang dapat menimbulkan berbagai efek negatif bagi masa depannya.Tantrum memang situasi yang merepotkan tapi yakinlah hal itu hanya terjadi di awal saja. Bila tetap konsisten, Anda akan memperoleh manfaat yang jauh lebih besar.

9. Minta bantuan tenaga profesional

Jika langkah-langkah di atas tidak memberikan efek yang maksimal. Atau mungkin anak malah menjadi stres, cemas, atau bahkan depresi.Bila hal itu terjadi, cobalah berkonsultasi pada orang yang profesional seperti dokter atau psikolog anak.Cobalah berdiskusi dengan mereka dan meminta saran pengasuhan yang lebih baik. Mereka akan membantu Anda dalam mengatasi anak yang kecanduan gadget.


Desain-tanpa-judul-18.png
admin ku
17/Mar/2022

Untuk mengetahui apakah bayi memiliki gangguan pendengaran atau tidak, sebaiknya lakukan tes pendengaran sejak bayi lahir. Bahkan, orangtua dianjurkan untuk melakukan tes tersebut sebelum membawa pulang bayi dari rumah sakit.

Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah indera pendengaran bayi berfungsi dengan normal atau mengalami gangguan. Bila ditemukan adanya gangguan pendengaran pada bayi, maka dokter dapat segera mengambil tindakan penanganan.

Tes pendengaran pada bayi tidak menyakitkan kok, justru sebagian bayi akan tertidur saat pemeriksaan berlangsung. Tes ini juga hanya membutuhkan waktu lima sampai sepuluh menit. Berikut dua jenis tes pendengaran yang biasanya dilakukan pada bayi baru lahir:

1. Tes Automated Auditory Brainstem Response (AABR)

Tes ini dilakukan dengan cara memasang earphone kecil pada kedua telinga bayi. Kemudian, perawat juga akan menaruh sensor yang sudah terhubung dengan jaringan komputer di kulit kepala bayi. Sensor ini akan mengukur aktivitas gelombang otak pada bayi dari respon yang ditunjukkannya ketika bunyi klik dikirim melalui earphone kecil tadi.

2. Tes Otoacoustic Emissions (OAE)

Tes pendengaran ini dilakukan untuk mengukur gelombang suara di telinga bayi bagian dalam. Prosedur tes ini hampir mirip dengan tes AABR, yaitu dengan meletakkan perangkat kecil di telinga bayi untuk menghasilkan bunyi klik yang lembut, kemudian respon telinga bayi terhadap bunyi tersebut akan direkam.

Gejala Gangguan Pendengaran pada Bayi

Selain dengan melakukan tes pendengaran, ibu juga dianjurkan untuk mengamati perkembangan bayi dari bulan ke bulan. Waspadai bila ada tanda-tanda gangguan pendengaran berikut pada bayi:

  • Tidak kaget saat mendengar suara nyaring.
  • Pada bayi di bawah 4 bulan, ia tidak menoleh ke arah sumber suara.
  • Menyadari kehadiran seseorang bila pengidap melihatnya, tapi pengidap tidak acuh saat dipanggil namanya.
  • Tidak bisa menyebutkan satu kata pun saat berusia satu tahun.
  • Lambat saat belajar bicara atau tidak jelas ketika berbicara.
  • Sering menjawab tidak sesuai dengan pertanyaannya.
  • Sering berbicara dengan lantang atau menyetel volume TV keras-keras.
  • Memerhatikan orang lain untuk meniru sesuatu yang diperintahkan, karena ia tidak bisa mendengar sesuatu yang diinstruksikan

Desain-tanpa-judul-19.png
admin ku
14/Mar/2022

Sama seperti orang dewasa, anak-anak bisa saja berkata kasar, mengumpat, melontarkan kata kotor, ataupun makian. Umumnya, anak berusia di bawah 5 tahun yang berkata kasar belum paham apa makna di balik umpatan yang ia ucapkan. Ia bisa berucap seperti itu karena meniru orang yang pernah berkata kasar di sekitarnya atau bisa juga karena menurutnya kata-kata tersebut terdengar lucu.

Namun, anak-anak berusia di atas 5 tahun atau usia sekolah yang mengumpat biasanya sudah mengerti arti dari kata-kata yang ia ucapkan. Bila tidak mengerti pun, setidaknya mereka mengerti bahwa kata-kata tersebut tidak pantas dilontarkan.Meski begitu, ia tetap bisa menggunakan kata tersebut sebagai ekspresi kekesalannya akan sesuatu atau untuk mendapatkan perhatian dari orang di sekitarnya.

Alasannya Anak Berbicara Kasar

  • Ingin menunjukkan keberanian 
  • Ingin mendapat perhatian orangtua.
  • Ingin masuk menjadi bagian dalam suatu pergaulan.
  • Ingin terlihat keren pada jalur yang salah.
  • Sebagai upaya membantah dan memberontak terhadap aturan dari orang tua

Cara Mengatasi Anak Suka Berkata Kasar

Perilaku anak berkata kasar tidak bisa diabaikan. Meski begitu, jangan terburu-buru untuk berteriak dan memarahinya, ya. Respons yang orang tua berikan berperan sangat penting dalam mengatasi perilaku ini.

Berikut ini adalah beberapa tips dalam menangani anak yang suka berkata kasar:

1. Tetap tenang 

Sangat penting untuk tetap tenang. Reaksi berlebihan dan tertawa dapat memperparah kebiasaan ini terutama jika penyebab bersumpah adalah untuk menarik perhatian. Jelaskan kepada anak bahwa berkata kasar itu tidak pantas dan tidak dapat diterima.

2. Berikan contoh yang baik

Karena anak mudah sekali meniru orang, orang tua harus menjadi contoh yang baik untuknya. Hindari berkata kasar, mencaci, atau menyumpah dengan nada marah di depan mereka. Bila tidak sengaja dilakukan, cepatlah mengoreksinya dan minta maaf pada anak. Selanjutnya, berjanjilah untuk tidak melakukannya lagi.

3.Bangun rasa empati anak

Saat anak berkata kasar cobalah ajak ia untuk memikirkan perasaan orang lain. Misalnya dengan bertanya “Kira-kira apa yang kamu rasakan jika seseorang berkata kasar padamu? Tentu kamu merasa sakit hati, kan? Begitulah yang dirasakan orang lain karena perkataanmu itu.”

4. Batasi penggunaan gadget

Selain dari lingkungan, kata-kata kasar dan kotor yang anak ucapkan juga bisa berasal dari gadgetlho. Tidak sedikit acara TV atau video di media sosial yang kontennya tidak mendidik dan mengandung kata-kata kasar.Selain itu, terlalu sering menggunakan gadget juga bisa mengganggu perkembangan dan kesehatan fisik anak.

5.Memberi Konsekuensi

Konsekuensi dapat dilakukan dengan memberikan hukuman saat anak berbicara kasar. Beberapa jenis konsekuensi yang dapat diberikan, seperti mengurungnya di kamar atau melarangnya bermain gadget. Ingat, ibu tidak boleh terpancing emosi saat memberikan konsekuensi, agar tidak mengarah pada kekerasan.

6. Jangan ragu memuji dan memberi penghargaan

Pujilah usahanya ketika ia berhasil menjauhi kata kasar dan bisa berbicara dengan santun, agar ia merasa dihargai dan diperhatikan. Misalnya, jika ia bercerita bahwa temannya berkata kasar, tapi ia menahan diri dan tidak mengikutinya, katakan bahwa ia hebat dan anda bangga padanya.


Desain-tanpa-judul-20.png
admin ku
10/Mar/2022

Anemia merupakan masalah kesehatan yang sering dijumpai khususnya di negara berkembang. Anemia menjadi salah satu masalah gizi yang sering dialami oleh masyarakat Indonesia, khususnya balita dan sebagian besar disebabkan karena asupan zat besi yang kurang dalam makanan sehari-hari.

Penyebab anemia diartikan sebagai kondisi yang muncul karena rendahnya sel darah merah, kadar hemoglobin, dan hematokrit di bawah normal. Anemia sendiri bukanlah penyakit, tetapi lebih mengarah pada gangguan fungsi tubuh.

Terjadinya anemia kebanyakan disebabkan karena kurangnya zat besi yang terdapat dalam tubuh. Umumnya yang mengidap anemia yaitu bayi maupun anak-anak. Gejala anemia pada anak umumnya terjadi akibat kekurangan zat besi saat ibu masih hamil dan proses tumbuh kembang anak yang tidak disertai dengan kecukupan makanan yang mengandung zat besi maupun pemberian susu formula yang tidak mengandung cukup zat besi.

Penyebab Kekurangan Zat Besi pada Anak

  1. Mengalami gangguan penyerapan makanan yang terjadi dalam usus (malabsorpsi)
  2. Mengalami perdarahan saluran cerna
  3. Pertumbuhan anak yang terlalu cepat
  4. Sering mengalami infeksi
  5. Berat badan yang berlebih
  6. Terlalu banyak mengonsumsi makanan yang mengandung serat. Perlu diketahui jika serat dikonsumsi terlalu banyak cenderung menghambat penyerapan zat besi.
  7. Memiliki alergi susu sapi

Apa Saja Gejala Anemia pada Anak

Seringnya gejala anemia pada anak di tahap awal tidak menunjukkan apapun. Makanya tidak jarang kasus anemia pada anak baru diketahui saat sudah ada komplikasi akibat anemia. Namun, di bawah ini terdapat gejala anemia pada anak yang bisa terlihat:7

  • Gejala anemia anak yang pertama yaitu jantung yang sering berdebar-debar.
  • Kulit dan mata anak jadi kekuningan atau pucat.
  • Jadi kurang aktif saat berkegiatan.
  • Sering mengalami infeksi dan luka tidak kunjung sembuh.
  • Tumbuh kembang melambat
  • Sering mengalami nyeri di tulang atau bagian tubuh tertentu
  • Mudah mengalami infeksi.
  • Suka sakit kepala
  • Tubuh jadi lemas atau lelah.
  • Anak jadi sulit fokus atau berkonsentrasi
  • Terakhir, gejala anemia pada anak yaitu sering mengalami sesak napas.

Cara Mengatasi Anemia pada Anak

Selain mengetahui penyebab dan gejala anemia pada anak, lalu bagaimana ya cara mengatasinya?  pastikan anda memberikan makanan yang mengandung zat besi dan vitamin setiap hari agar membantu tubuh menghasilkan sel darah merah dan hemoglobin yang cukup. anda bisa memberikan makanan kaya zat besi seperti sayuran hijau, kentang, kacang-kacangan, kuning telur, tahu, tempe, daging, ayam, dan ikan.Agar membuat penyerapan zat besi menjadi optimal, perlu juga dibarengi dengan konsumsi makanan yang kaya vitamin C, seperti brokoli, jeruk, stroberi, paprika.




Klinik Utama Dharmahusada Premier merupakan klinik Utama yang berlokasi di area Dharmahusada. Dengan seluruh tenaga medis profesional, Klinik Utama Dharmahusada Premier menghadirkan pelayanan komprehensif yang meliputi perawatan promotif, preventif, dan kuratif. Segala tindakan medis ditangani oleh tenaga medis ahli dan berpengalaman, serta menggunakan teknologi yang modern.



Social Media


Facebook

www.facebook.com/dhpclinic


Twitter

@dhpcclinic


Instagram

@dhpclinic



Hubungi Kami


Whatsapp

085233664118


Telepon

(031)5921101


Email

klinik.dharmahusadapremier@gmail.com


Copyright by Markbro 2024. All rights reserved.