Senin - Jumat07:00-21:00Sabtu07:00-13:00Hubungi kami+0315921101

Blog

6-Mitos-dan-Fakta-Seputar-DBD-yang-Masih-Sering-Disalahpahami.png
18/Apr/2026

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi penyakit yang perlu diwaspadai, terutama di negara tropis seperti Indonesia. Sayangnya, masih banyak mitos yang beredar di masyarakat terkait penyakit ini. Jika dipercaya tanpa pemahaman yang benar, mitos tersebut justru bisa menghambat pencegahan dan penanganan yang tepat.

Agar tidak salah kaprah, berikut beberapa mitos dan fakta seputar DBD yang penting untuk diketahui.

  1. Mitos: Semua Gigitan Nyamuk Bisa Menyebabkan DBD

Fakta:
Tidak semua nyamuk dapat menularkan DBD. Virus dengue hanya ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti betina yang sebelumnya telah terinfeksi virus.

Artinya, tidak semua gigitan nyamuk berbahaya, tetapi tetap perlu diwaspadai jika berasal dari jenis ini.

  1. Mitos: DBD Hanya Terjadi Sekali Seumur Hidup

Fakta:
Seseorang bisa terkena DBD lebih dari satu kali. Hal ini karena virus dengue memiliki empat jenis (serotipe) berbeda. Kekebalan hanya berlaku pada satu jenis yang pernah menginfeksi, bukan semuanya.

Bahkan, infeksi berikutnya bisa berisiko lebih berat.

  1. Mitos: Demam Turun Artinya Sudah Sembuh

Fakta:
Penurunan demam justru bisa menjadi tanda memasuki fase kritis. Pada fase ini, kondisi pasien bisa memburuk jika tidak dipantau dengan baik, termasuk risiko penurunan tekanan darah dan gangguan organ.

Karena itu, tetap perlu waspada meski demam sudah turun.

  1. Mitos: Hanya Anak-Anak yang Bisa Terkena DBD

Fakta:
DBD bisa menyerang siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Namun, kelompok dengan daya tahan tubuh lemah atau memiliki penyakit penyerta memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi yang lebih berat.

  1. Mitos: Pencegahan DBD Cukup dengan Fogging

Fakta:
Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, bukan jentik. Pencegahan yang lebih efektif adalah dengan melakukan PSN 3M Plus, seperti menguras, menutup, dan mendaur ulang tempat penampungan air.

Langkah ini penting untuk memutus siklus hidup nyamuk.

  1. Mitos: Semua Pasien DBD Harus Dirawat di Rumah Sakit

Fakta:
Tidak semua kasus DBD memerlukan rawat inap. Pasien dengan gejala ringan masih bisa dirawat di rumah dengan pengawasan yang baik. Namun, jika muncul gejala berat seperti muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, atau perdarahan, harus segera mendapat penanganan medis. ()

 

Pentingnya Memahami Fakta DBD

Kesalahan memahami informasi tentang DBD dapat berdampak serius, mulai dari keterlambatan penanganan hingga meningkatnya risiko komplikasi. Oleh karena itu, penting untuk selalu mengacu pada informasi kesehatan yang valid dan terpercaya.

 

DBD bukan hanya penyakit musiman biasa, tetapi bisa menjadi kondisi serius jika tidak ditangani dengan tepat. Banyaknya mitos yang beredar sering membuat masyarakat salah mengambil langkah.

Dengan memahami fakta yang benar, Anda dapat lebih waspada, melakukan pencegahan yang tepat, dan melindungi diri serta keluarga dari risiko demam berdarah.

Jika Anda mengalami gangguan kesehatan dan membutuhkan pengobatan segera, Anda bisa kunjungi Klinik Dharmahusada Premier untuk mendapatkan pengobatan dan penanganan yang Anda butuhkan.
Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa hubungi kami di:

0315921101
085233664118
Atau Anda bisa kunjungi Klinik Dharmahusada Premier di Jl. Raya Dharma Husada Indah No.26, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285


Mengenal-Gangguan-Saraf-pada-Anak-dan-Dampaknya-pada-Tumbuh-Kembang.png
24/Mar/2026

Penyakit saraf pada anak merupakan kondisi yang perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi tumbuh kembang, kemampuan belajar, hingga aktivitas sehari-hari. Gangguan ini dapat terjadi pada sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang) maupun sistem saraf tepi.

Mengetahui jenis dan tanda-tandanya sejak dini sangat penting agar anak bisa mendapatkan penanganan yang tepat.

 

Penyebab Penyakit Saraf pada Anak

Gangguan saraf pada anak dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain:

  • Kelainan bawaan sejak dalam kandungan (kongenital)
  • Kelahiran prematur
  • Gangguan saat proses persalinan
  • Cedera atau infeksi pada otak

Kondisi ini dapat berdampak pada perkembangan fisik maupun mental anak jika tidak ditangani dengan baik.

 

Jenis Penyakit Saraf pada Anak

Berikut beberapa penyakit saraf pada anak yang cukup sering ditemukan:

  1. Epilepsi

Epilepsi merupakan salah satu gangguan saraf yang paling umum pada anak. Kondisi ini ditandai dengan kejang berulang tanpa penyebab yang jelas.

  1. Spina Bifida

Spina bifida adalah kelainan pada tulang belakang akibat pembentukan saraf yang tidak sempurna sejak dalam kandungan. Kondisinya bisa ringan hingga berat.

  1. Cerebral Palsy

Cerebral palsy terjadi akibat kerusakan otak saat masa perkembangan janin atau setelah lahir. Gejala utamanya adalah gangguan gerak dan koordinasi.

  1. ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)

ADHD adalah gangguan saraf yang menyebabkan anak sulit fokus, hiperaktif, dan impulsif. Kondisi ini biasanya mulai terlihat saat anak memasuki usia sekolah.

  1. Autisme

Autisme merupakan gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi kemampuan komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku anak.

  1. Hidrosefalus

Hidrosefalus terjadi akibat penumpukan cairan di otak yang menyebabkan tekanan pada jaringan otak. Gejalanya bisa berupa pembesaran kepala, muntah, dan keterlambatan perkembangan.

  1. Disleksia

Disleksia adalah gangguan belajar yang membuat anak kesulitan membaca dan memahami bahasa, meskipun tingkat kecerdasannya normal.

  1. Keterlambatan Tumbuh Kembang

Keterlambatan dalam berjalan, berbicara, atau kemampuan motorik bisa menjadi tanda adanya gangguan saraf pada anak.

 

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Beberapa tanda yang dapat menunjukkan adanya gangguan saraf pada anak antara lain:

  • Keterlambatan perkembangan (motorik atau bicara)
  • Kejang berulang
  • Sulit fokus atau hiperaktif
  • Gangguan koordinasi gerak
  • Kesulitan belajar atau berinteraksi

Gejala ini dapat berbeda pada setiap anak, tergantung jenis gangguan yang dialami.

 

Pentingnya Deteksi Dini

Deteksi dini sangat penting untuk mencegah dampak yang lebih serius. Semakin cepat gangguan saraf diketahui, semakin besar peluang anak untuk mendapatkan terapi dan penanganan yang optimal.

Penanganan biasanya melibatkan tim medis seperti dokter spesialis anak, neurologi, hingga terapi tumbuh kembang.

 

Penyakit saraf pada anak dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari perkembangan fisik hingga kemampuan belajar. Berbagai kondisi seperti epilepsi, autisme, hingga cerebral palsy perlu dikenali sejak dini agar dapat ditangani dengan tepat.

 

Jika Anda mengalami gangguan kesehatan dan membutuhkan pengobatan segera, Anda bisa kunjungi Klinik Dharmahusada Premier untuk mendapatkan pengobatan dan penanganan yang Anda butuhkan.
Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa hubungi kami di:

0315921101
085233664118
Atau Anda bisa kunjungi Klinik Dharmahusada Premier di Jl. Raya Dharma Husada Indah No.26, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285


Saraf-Terjepit-pada-Ibu-Hamil-Jangan-Diabaikan.png
18/Mar/2026

Kehamilan merupakan masa yang penuh perubahan pada tubuh. Selain perubahan hormon dan fisik, ibu hamil juga sering mengalami berbagai keluhan, salah satunya adalah saraf terjepit. Kondisi ini sering dianggap sepele, padahal dapat berdampak pada kenyamanan bahkan keselamatan ibu dan janin jika tidak ditangani dengan baik.

 

Apa Itu Saraf Terjepit?

Saraf terjepit adalah kondisi ketika saraf mengalami tekanan, baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga fungsi saraf terganggu. Tekanan ini dapat menghambat kemampuan saraf dalam menghantarkan sinyal dari otak ke tubuh atau sebaliknya.

 

Penyebab Saraf Terjepit pada Ibu Hamil

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan saraf terjepit selama kehamilan antara lain:

  • Posisi tidur yang kurang tepat
  • Postur tubuh yang salah saat mengangkat beban
  • Perubahan fisik selama kehamilan
  • Tekanan pada area punggung dan panggul

Selain itu, perubahan tubuh selama kehamilan seperti peregangan ligamen dan pembesaran rahim juga dapat memicu kompresi saraf.

 

Dampak yang Bisa Terjadi

Saraf terjepit dapat menimbulkan berbagai keluhan seperti:

  • Nyeri pada punggung atau pinggang
  • Rasa tidak nyaman saat bergerak
  • Gangguan posisi tidur

Jika kondisi ini dibiarkan, dapat berdampak pada proses persalinan karena ibu akan kesulitan menahan nyeri saat melahirkan.

 

Penanganan yang Dapat Dilakukan

Jika mengalami keluhan saraf terjepit, ibu hamil disarankan untuk:

  • Tetap tenang dan tidak panik
  • Segera berkonsultasi ke tenaga kesehatan
  • Menjaga posisi tubuh yang baik
  • Menghindari aktivitas yang memperparah nyeri

Pada kasus ringan hingga sedang, kondisi ini biasanya tidak berbahaya. Namun pada kasus berat, diperlukan penanganan lebih lanjut oleh tenaga medis.

 

Saraf terjepit pada ibu hamil merupakan kondisi yang tidak boleh diabaikan. Dengan penanganan yang tepat dan deteksi dini, ibu hamil tetap dapat menjalani kehamilan dengan nyaman dan aman.

 

Jika Anda mengalami gangguan kesehatan dan membutuhkan pengobatan segera, Anda bisa kunjungi Klinik Dharmahusada Premier untuk mendapatkan pengobatan dan penanganan yang Anda butuhkan.
Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa hubungi kami di:

0315921101
085233664118
Atau Anda bisa kunjungi Klinik Dharmahusada Premier di Jl. Raya Dharma Husada Indah No.26, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285


Kenapa-Bayi-Bisa-Lahir-Prematur-dan-Faktor-Risiko-yang-Harus-Diwaspadai.png
27/Nov/2025

Kelahiran prematur adalah kondisi ketika bayi lahir sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu. Organ vital janin seperti paru-paru, otak, dan sistem kekebalan belum benar-benar matang. Oleh sebab itu, bayi prematur bisa menghadapi berbagai risiko kesehatan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Meskipun terkadang penyebab pastinya tidak bisa dipastikan, ada sejumlah faktor yang diketahui meningkatkan peluang persalinan prematur. Berikut yang paling umum:

 

Faktor Risiko dan Penyebab Prematur

  • Gangguan kesehatan atau kelainan pada ibu — Penyakit kronis seperti tekanan darah tinggi (hipertensi), diabetes, penyakit ginjal atau hati, serta kondisi lain pada sistem reproduksi seperti serviks pendek atau inkompetensi serviks dapat meningkatkan risiko persalinan dini.
  • Infeksi selama kehamilan — Infeksi vagina, infeksi saluran kemih, atau infeksi lain pada ibu dapat memicu kontraksi dini atau pecah ketuban, memperbesar kemungkinan kelahiran prematur.
  • Masalah plasenta atau kehamilan kembar — Kondisi seperti solusio plasenta (plasenta terlepas prematur), kehamilan ganda (kembar dua atau lebih), atau kelebihan cairan ketuban bisa menyebabkan peregangan rahim yang memicu persalinan prematur.
  • Riwayat kelahiran prematur sebelumnya atau genetika — Ibu atau saudara kandung yang pernah mengalami persalinan prematur bisa meningkatkan risiko bagi kehamilan selanjutnya.
  • Gaya hidup dan kondisi kehamilan — Kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, kurang tidur, stres berat, atau kondisi gizi yang kurang baik saat hamil juga terkait dengan peningkatan risiko.

 

Dampak Jika Bayi Lahir Prematur

Karena organ tubuh belum matang, bayi prematur memiliki potensi mengalami komplikasi mulai dari gangguan pernapasan, suhu tubuh yang sulit dijaga, kesulitan menyusu atau makan, hingga komplikasi jangka panjang seperti gangguan perkembangan saraf, penglihatan, pendengaran, atau tumbuh-kembang yang terlambat.

Karena itu, persalinan prematur bukan hal sepele membutuhkan perhatian lebih, perawatan khusus, dan sering kali perawatan intensif di unit neonatal (NICU) jika diperlukan.

 

Cara Mengurangi Risiko, Perawatan dan Pencegahan Sejak Dini

Meskipun tidak semua kasus bisa dicegah, banyak langkah yang bisa membantu meminimalkan risiko persalinan prematur. Berikut hal-hal yang dapat dilakukan:

  • Rutin memeriksakan kehamilan ke tenaga medis agar faktor risiko bisa terdeteksi sejak awal.
  • Menjaga kesehatan ibu: menjaga tekanan darah, gula darah, dan kondisi medis lainnya sebelum dan selama kehamilan.
  • Menghindari gaya hidup berisiko seperti merokok, konsumsi alkohol dan mengupayakan gizi cukup serta kondisi tubuh ideal sebelum dan saat hamil.
  • Waspadai infeksi segera obati infeksi saluran kemih, infeksi vagina, atau kondisi lain yang bisa mengganggu kehamilan.
  • Hindari kehamilan terlalu rapat (istirahat yang cukup antar kehamilan), terutama jika sebelumnya sudah pernah melahirkan prematur atau terdapat riwayat komplikasi.

 

Peran Orang Tua & Tenaga Medis: Deteksi Dini dan Kesadaran Penting

Mengetahui tanda-tanda risiko dan faktor penyebab prematur sejak dini memberi kesempatan bagi ibu dan keluarga untuk bersiap baik dari segi pemeriksaan kehamilan, pola hidup, maupun mental. Bila ada indikasi misalnya infeksi, komplikasi kesehatan, atau kondisi medis lainnya segera konsultasikan ke dokter.

Dengan perhatian, perawatan, dan kesadaran sejak awal, peluang kelahiran lancar dan bayi sehat bisa meningkat. Kehamilan sehat bukan hanya soal waktu, tapi juga soal kesiapan fisik, mental, dan lingkungan sekitar.

 

Jika Anda mengalami gangguan kesehatan dan membutuhkan pengobatan segera, Anda bisa kunjungi Klinik Dharmahusada Premier untuk mendapatkan pengobatan dan penanganan yang Anda butuhkan.
Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa hubungi kami di:

0315921101
085233664118
Atau Anda bisa kunjungi Klinik Dharmahusada Premier di Jl. Raya Dharma Husada Indah No.26, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285


Cacar-Air-pada-Anak-Kenali-Gejala-Penanganan-dan-Cara-Melindungi-Si-Kecil.png
20/Oct/2025

Ketika anak Anda tiba-tiba demam, pipi memerah, dan muncul bintik-bintik lepuh di seluruh tubuhnya, bisa jadi yang sedang dialaminya adalah Cacar air (varicella). Meski sering dianggap “hanya penyakit masa kanak-kanak”, cacar air tetap memerlukan perhatian termasuk dari orang tua agar anak pulih dengan nyaman dan risiko komplikasi bisa ditekan.

 

Apa Itu Cacar Air?

Cacar air disebabkan oleh virus Varicella‑zoster virus yang menular sangat mudah melalui udara atau kontak langsung dengan lepuhan anak yang terinfeksi. Anak yang pertama kali terpapar virus ini biasanya berada dalam rentang usia sekolah dasar, namun bukan berarti anak yang lebih besar atau bahkan orang dewasa bebas dari risiko.

 

Gejala yang Harus Diwaspadai

Orang tua sering kali mengetahui ada yang tidak biasa ketika anak mulai mengeluh gatal atau pipi tampak memerah. Berikut rangkuman gejala khasnya:

  • Demam ringan hingga sedang, biasanya mulai muncul beberapa hari sebelum bintik-bintik lepuh.
  • Ruam merah yang kemudian berkembang menjadi lepuh berisi cairan (lenting) yang muncul di wajah dan tubuh, kemudian menyebar ke bagian lain seperti kepala, punggung, bahkan mulut atau kelamin.
  • Anak bisa merasa tidak enak badan, kelelahan, kehilangan nafsu makan.
  • Bintik lepuh akan mengering dan membentuk keropeng dalam beberapa hari. Jika anak terus menggaruk, bekas bisa lebih lama hilangnya.

Kunci bagi orang tua: jangan biarkan pengecekan hanya ketika sudah “parah”. Perhatikan sejak muncul gejala awal agar penanganan bisa lebih cepat.

 

Kenapa Penanganan Lebih Cepat Lebih Baik?

Walaupun banyak kasus cacar air anak yang sembuh dengan sendirinya dalam waktu 1-2 minggu, kondisi ini tetap bukan untuk diabaikan. Ada beberapa potensi komplikasi yang dapat terjadi, terutama jika sistem imun anak sedang lemah. Komplikasi tersebut misalnya infeksi bakteri pada lepuhan, pneumonia, hingga radang otak (ensefalitis). Orang tua yang tanggap bisa membantu anak melewati masa sakit dengan lebih ringan dan aman.

 

Cara Mendampingi Anak Selama Sakit

Berikut beberapa langkah yang bisa orang tua lakukan di rumah demi mendukung pemulihan anak:

  • Pastikan anak cukup istirahat dan di rumah selama masa penularan (biasanya hingga semua lepuh mengering).
  • Berikan minum dan makanan yang mendukung: cairan banyak, makanan lembut yang tidak memicu rasa sakit di mulut anak (apabila lepuh muncul di area mulut).
  • Cegah anak menggaruk lepuh: potong kuku anak, gunakan sarung tangan saat tidur jika perlu, pakaian longgar dan berbahan lembut. Menggaruk bisa menyebabkan infeksi sekunder yang memperlambat pemulihan.
  • Untuk meredakan rasa gatal: kompres dingin bagian yang gatal, oleskan bedak calamine atau losion yang sesuai, dan hindari obat yang tidak direkomendasikan seperti aspirin untuk anak.
  • Pantau kondisi anak secara berkala. Bila muncul gejala seperti demam tinggi lebih dari 4 hari, lepuh bernanah, kesulitan bernapas, leher kaku atau anak sulit bangun – segera bawa ke dokter.

 

Pencegahan yang Tidak Bisa Diabaikan

Salah satu cara paling efektif untuk melindungi anak dari cacar air adalah melalui vaksinasi. Vaksin cacar air (varicella vaccine) dapat diberikan mulai usia satu tahun dan sangat direkomendasikan untuk memberikan perlindungan yang lebih baik. Selain itu, selama anak masih aktif, hindari kontak dengan anak lain yang sedang sakit, terutama saat anak Anda belum pernah mengalami cacar air atau belum divaksin.

Menyaksikan anak mengalami cacar air memang membuat orang tua cemas, namun dengan pengetahuan yang tepat dan tindakan yang cepat, prosesnya bisa dilalui dengan aman. Perhatian penuh dari orang tua mulai dari menjaga kebersihan, memastikan istirahat cukup, hingga memantau kondisi anak akan jadi faktor kunci supaya anak pulih dengan nyaman dan terhindar dari komplikasi. Yuk, jadikan momen ini sebagai pengingat betapa pentingnya perlindungan dan perawatan sejak dini bagi si kecil.

 

Jika Anda mengalami gangguan kesehatan dan membutuhkan pengobatan segera, Anda bisa kunjungi Klinik Dharmahusada Premier untuk mendapatkan pengobatan dan penanganan yang Anda butuhkan.
Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa hubungi kami di:

0315921101
085233664118
Atau Anda bisa kunjungi Klinik Dharmahusada Premier di Jl. Raya Dharma Husada Indah No.26, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285


Penyebab-Nyeri-Sendi-pada-Anak-Apa-yang-Orang-Tua-Perlu-Tahu.png
23/Sep/2025

Nyeri sendi tidak hanya terjadi pada orang dewasa, anak-anak juga bisa mengalaminya. Anak yang aktif bergerak, jatuh saat bermain, atau bertambah usianya sering merasakan nyeri sendi atau lutut. Meski kadang ringan, nyeri ini bisa juga menjadi pertanda penyakit yang lebih serius.

 

Penyebab Umum Nyeri Sendi pada Anak

Berikut beberapa penyebab nyeri sendi pada anak, mulai dari yang tidak terlalu serius sampai yang memerlukan penanganan medis:

  1. Growing Pain
    Nyeri sendi atau otot karena aktivitas tinggi dan pertumbuhan tubuh. Biasanya terjadi pada usia prasekolah (sekitar 3-4 tahun) dan sekolah dasar (8-12 tahun). Malam hari sering terasa lebih nyeri, dan gejala bisa hilang sendiri.
  2. Juvenile Idiopathic Arthritis (JIA)
    Peradangan sendi yang terjadi pada anak-anak di bawah umur 17 tahun. Sendi bisa bengkak, merah, dan terasa sakit jika disentuh. JIA memerlukan diagnosa dan penanganan khusus agar tidak merusak sendi yang masih berkembang.
  3. Penyakit Kronis
    Nyeri sendi pada anak bisa dipicu kondisi kronis seperti lupus, yang menyerang jaringan tubuh sendiri hingga menimbulkan nyeri, kaku, dan bengkak, atau penyakit Lyme akibat gigitan kutu yang ditandai ruam, demam, dan nyeri sendi.
  4. Leukemia
    Kanker pada sumsum tulang yang bisa menyebabkan nyeri sendi sebagai salah satu gejala. Biasanya disertai gejala lainnya seperti mudah memar, demam terus-menerus, atau kelenjar getah bening membengkak.

 

Kapan Orang Tua Perlu Khawatir & Cari Bantuan Medis

Jika anak mengeluh nyeri sendi, orang tua perlu memperhatikan apabila muncul tanda-tanda berikut agar segera dibawa ke dokter:

  • Sendi tampak merah dan bengkak
  • Rasa nyeri tidak kunjung hilang
  • Anak demam bersamaan dengan nyeri sendi
  • Berat badan anak menurun tanpa sebab jelas
  • Anak mulai lemah atau kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari

 

Nyeri sendi pada anak bisa ringan maupun tanda penyakit serius. Jika disertai bengkak, demam, atau penurunan berat badan, segera periksakan ke dokter agar cepat mendapat penanganan yang tepat.

 

Jika Anda mengalami gangguan kesehatan dan membutuhkan pengobatan segera, Anda bisa kunjungi Klinik Dharmahusada Premier untuk mendapatkan pengobatan dan penanganan yang Anda butuhkan.
Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa hubungi kami di:

0315921101
085233664118
Atau Anda bisa kunjungi Klinik Dharmahusada Premier di Jl. Raya Dharma Husada Indah No.26, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285


Campak-pada-Anak-Gejala-Risiko-dan-Cara-Pencegahannya.png
19/Sep/2025

Campak adalah infeksi virus yang sangat menular, terutama menyerang anak-anak, tetapi orang dewasa juga bisa tertular. Virus penyebabnya adalah virus paramyxovirus yang menyebar lewat udara atau kontak langsung, misalnya lewat batuk, bersin, atau menyentuh permukaan benda yang terkena virus.

 

Gejala Campak

Anak yang terinfeksi virus campak biasanya menunjukkan gejala sebagai berikut:

  • Demam tinggi
  • Batuk kering
  • Mata merah dan berair
  • Pilek dan sakit tenggorokan
  • Setelah 2‐3 hari, muncul bintik-putih kecil di bagian dalam pipi, namely bintik Koplik
  • Ruam kemerahan yang muncul dari wajah, leher, lalu menyebar ke seluruh tubuh. Ruam ini berlangsung sekitar 5-6 hari sebelum mulai pudar

 

Kapan Harus Memeriksakan ke Dokter

Segera ke dokter bila:

  • Anak masih bayi atau sangat kecil.
  • Demam tidak turun/tetap tinggi.
  • Ada masalah pernapasan seperti sesak atau batuk berat.
  • Anak tidak mau makan atau minum sehingga berisiko dehidrasi.

 

Penyebab & Penularan

  • Virus campak sangat mudah menular melalui udara dan percikan droplet dari batuk atau bersin seseorang yang telah tertular.
  • Virus juga bisa bertahan di udara dan di permukaan benda selama beberapa jam.
  • Menyentuh benda yang terkontaminasi lalu menyentuh wajah, mata, hidung, atau mulut bisa menyebabkan infeksi.

 

Risiko & Komplikasi

Jika tidak ditangani, campak bisa menimbulkan komplikasi, antara lain:

  • Infeksi telinga
  • Diare dan muntah
  • Pneumonia
  • Dehidrasi
  • Kebutaan
  • Peradangan otak (encephalitis)

 

Penanganan & Perawatan di Rumah

Walau tidak ada obat khusus yang membunuh virus campak, gejala bisa diredakan dengan:

  • Istirahat yang cukup agar daya tahan tubuh bisa bekerja maksimal
  • Konsumsi cairan yang banyak
  • Memberikan makanan bergizi
  • Obat pereda demam seperti parasetamol atau ibuprofen (bukan aspirin untuk anak)
  • Vitamin A jika direkomendasikan dokter
  • Menjaga kebersihan lingkungan dan membatasi kontak supaya tidak menular ke orang lain

 

Pencegahan

Pencegahan campak bisa dilakukan lewat:

  • Vaksinasi campak, sesuai jadwal imunisasi nasional (biasanya bayi umur 9 bulan dan booster berikutnya)
  • Memberikan ASI eksklusif untuk bayi supaya daya tahan tubuhnya lebih kuat.
  • Menjaga kebersihan tangan dan lingkungan.

 

Campak adalah penyakit yang sangat menular namun dapat dicegah. Gejalanya khas → demam, batuk, mata merah, ruam. Penanganan cepat dan vaksinasi tepat waktu sangat penting agar anak tidak mengalami komplikasi serius. Selalu konsultasikan ke dokter bila anak menunjukkan tanda-tanda campak atau bila kondisi memburuk.

 

Jika Anda mengalami gangguan kesehatan dan membutuhkan pengobatan segera, Anda bisa kunjungi Klinik Dharmahusada Premier untuk mendapatkan pengobatan dan penanganan yang Anda butuhkan.
Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa hubungi kami di:

0315921101
085233664118
Atau Anda bisa kunjungi Klinik Dharmahusada Premier di Jl. Raya Dharma Husada Indah No.26, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285


Bahaya-Cacingan-Dari-Gangguan-Nutrisi-hingga-Komplikasi-Serius.png
18/Sep/2025

Apa Itu Cacingan?

Cacingan adalah kondisi infeksi parasit cacing yang hidup di dalam tubuh manusia, terutama di usus. Parasit ini bisa menyebabkan berbagai gangguan mulai dari yang ringan hingga berat, tergantung jenis cacing, tingkat infeksi, dan kondisi tubuh penderitanya.

 

Gejala Cacingan yang Perlu Diwaspadai

Gejala cacingan bisa berbeda-beda antara anak-anak dan orang dewasa, serta tergantung jenis cacingnya. Berikut beberapa tanda umum:

  • Gatal di area anus, terutama malam hari
  • Perut kram, mual, atau rasa tidak nyaman pada perut
  • Nafsu makan berkurang, berat badan menurun tanpa sebab jelas
  • Tubuh terasa lemas atau sering kelelahan

 

Penyebab Infeksi Cacing

Beberapa faktor yang menyebabkan seseorang bisa mengalami cacingan antara lain:

  • Kebersihan lingkungan dan sanitasi yang kurang baik
  • Konsumsi makanan atau air yang tercemar telur/larva cacing
  • Kebiasaan buruk seperti tidak mencuci tangan sebelum makan atau setelah menggunakan toilet
  • Untuk anak-anak: lingkungan bermain yang kotor, kontak langsung ke tanah atau benda yang tercemar

 

Cara Mengobati Cacingan

Untuk menanganinya, berikut langkah-langkah yang bisa dilakukan:

  1. Obat Cacing
    Penggunaan obat cacing yang sesuai jenis infeksi. Untuk anak-anak dan orang dewasa, ada obat pil atau sirup yang umumnya dikonsumsi sekali atau selama beberapa hari.
  2. Mengobati Semua Anggota Keluarga
    Supaya infeksi tidak kembali, sering kali dokter menyarankan semua orang serumah untuk ikut minum obat cacing.
  3. Kebersihan Diri dan Lingkungan
    Mencuci tangan sebelum makan, menjaga kebersihan kamar mandi, mencuci pakaian dan selimut secara rutin. Hindari makanan atau air yang tidak bersih.

 

Komplikasi Jika Cacingan Tidak Diobati

Kalau dibiarkan, infeksi parasit cacing bisa menimbulkan beberapa masalah serius, terutama pada anak:

  • Anemia akibat penurunan jumlah darah dan kekurangan zat besi
  • Gangguan pertumbuhan, karena nutrisi tubuh terserap oleh cacing
  • Gangguan pencernaan kronis dan kondisi lemas berkepanjangan

 

Pencegahan

Untuk mengurangi risiko cacingan, beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan:

  • Cuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah ke toilet.
  • Pastikan makanan matang sempurna dan air minum bersih.
  • Jaga kebersihan lingkungan dan sanitasi (toilet, kamar mandi).
  • Gunakan alas kaki jika berjalan di tanah atau tempat yang mungkin tercemar telur cacing.

 

Kapan Perlu Ke Dokter?

Segera periksakan ke dokter jika:

  • Gejala cacingan berlangsung lama, tidak membaik setelah pengobatan sederhana.
  • Ada penurunan berat badan drastis, kelelahan berat, atau anemia.
  • Muncul darah pada tinja atau gatal hebat di area anus.

 

Cacingan adalah infeksi parasit yang umum, terutama di lingkungan dengan sanitasi buruk. Gejalanya bisa ringan hingga parah. Pengobatan dini dan upaya menjaga kebersihan sangat penting untuk mencegah komplikasi. Bila Anda atau anggota keluarga menunjukkan gejala-gejala seperti gatal, lemas, atau penurunan berat badan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar mendapatkan penanganan yang tepat.

 

Jika Anda mengalami gangguan kesehatan dan membutuhkan pengobatan segera, Anda bisa kunjungi Klinik Dharmahusada Premier untuk mendapatkan pengobatan dan penanganan yang Anda butuhkan.
Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa hubungi kami di:

0315921101
085233664118
Atau Anda bisa kunjungi Klinik Dharmahusada Premier di Jl. Raya Dharma Husada Indah No.26, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285


Tips-Jitu-Menjaga-Kesehatan-Gigi-Anak-Dari-Awal-Tumbuh-hingga-Tumbuh-Gigi-Permanen.png
19/Aug/2025

Mulai dari gigi susu hingga gigi permanen, kesehatan mulut anak berperan penting bagi kemampuan mengunyah, bicara, dan perkembangan kepercayaan diri mereka. Yuk, jaga senyum si kecil sejak tahap awal dengan panduan praktis berikut ini.

 

  1. Mulai Membersihkan Sejak Gigi Pertama Muncul

Bersihkan gusi bayi dengan kain lembut dua kali sehari setelah menyusu dan sebelum tidur meskipun belum ada gigi muncul. Setelah gigi pertama tumbuh, gunakan sikat gigi kecil dan lembut dengan sedikit pasta gigi ringan (plain water atau fluoride-free) untuk anak di bawah 2 tahun.

  1. Sikat Gigi Dua Kali Sehari dengan Fluoride Sesuai Usia

Ajarkan anak menggosok gigi pagi dan malam selama dua menit. Gunakan pasta gigi berfluoride sebatas korek api untuk balita dan seukuran kacang polong untuk usia 3–6 tahun. Selalu awasi agar mereka tidak menelan pasta gigi.

  1. Pantau dan Dampingi Kebiasaan Menyikat Giginya

Anak umumnya baru memiliki keterampilan menyikat yang baik sekitar usia 6–8 tahun. Sampai saat itu, orang tua perlu membantu sambil mengarahkan teknik menyikat yang benar.

  1. Ajarkan Flossing Sejak Gigi Saling Kontak

Mulai ajarkan penggunaan benang gigi begitu gigi anak saling berdekatan—biasanya sekitar usia 2–3 tahun—untuk mencegah plak dan bakteri muncul di sela gigi.

  1. Batasi Cemilan Gula dan Anjurkan Minum Air Putih

Kurangi konsumsi makanan dan minuman manis. Berikan sajian sehat seperti buah segar, sayuran, dan produk olahan susu rendah lemak. Hindari jus buah sebagai pengganti air—karena gula langsung melekat pada gigi.

  1. Berikan Teladan dan Jadikan Menjaga Gigi Menyenangkan

Anak meniru tindakan orangtua. Bersihkan gigi bersama mereka, gunakan sikat lucu, nyanyikan lagu, atau tandai aktivitas sikat gigi dengan stiker agar terasa seperti permainan.

  1. Rutin ke Dokter Gigi Sejak Awal

Bawa anak ke dokter gigi pertama kali saat gigi pertama muncul atau paling lambat saat ulang tahun pertama. Setelah itu, kunjungan setiap enam bulan sangat penting untuk deteksi dini masalah gigi.

  1. Hindari Penularan Bakteri Oral dari Orang Tua

Jangan berbagi alat makan, sendok, atau membersihkan dot dengan mulut sendiri—untuk menghindari penularan bakteri yang bisa memicu karies.

 

Mengapa Semua Langkah Ini Penting?

  • Mencegah gigi berlubang (karies) dan komplikasinya seperti infeksi atau abses yang bisa mengganggu kesehatan umum anak.
  • Meminimalkan dampak faktor genetik, seperti enamel lemah yang tidak bisa dikontrol–tetapi bisa dikelola melalui perawatan intensif.

 

Menjaga kesehatan mulut anak adalah investasi jangka panjang. Mulai sejak bayi, batasi makanan manis, ajari menyikat dengan benar, pantau eskalasi kebiasaan, dan rutin ke dokter gigi. Dengan dukungan penuh orangtua, senyum sehat si kecil bisa terjaga hingga dewasa.

 

Jika Anda mengalami gangguan kesehatan dan membutuhkan pengobatan segera, Anda bisa kunjungi Klinik Dharmahusada Premier untuk mendapatkan pengobatan dan penanganan yang Anda butuhkan.
Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa hubungi kami di:

0315921101
085233664118
Atau Anda bisa kunjungi Klinik Dharmahusada Premier di Jl. Raya Dharma Husada Indah No.26, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285


Vaksin-DTP-Langkah-Kecil-dengan-Perlindungan-Besar-untuk-Anak.png
11/Aug/2025

Vaksinasi DTP menjadi salah satu imunisasi penting dalam hidup anak. Selain melindungi dari difteri dan tetanus, vaksin ini juga meredam ancaman batuk rejan, yang bisa sangat berbahaya terutama pada bayi dan balita.

 

Perlindungan dari Difteri

Difteri dulu dikenal sebagai penyakit mematikan yang menimbulkan penebalan pada tenggorokan sehingga menyulitkan pernapasan, bahkan menimbulkan gagal jantung atau kelumpuhan. Berkat vaksin, difteri yang dulu merajalela kini berhasil ditekan hingga menurun lebih dari 90%.

 

Cegah Risiko Tetanus

Tetanus, atau lockjaw, juga merupakan infeksi berbahaya yang bisa terjadi akibat luka kecil. Bakteri penyebabnya berkembang di lingkungan sehari-hari—tanpa vaksin, risiko kematian bisa mencapai 60%. Namun dengan imunisasi lengkap, kasus dan kematian akibat tetanus mengalami penurunan drastis.

 

Hindari Batuk Rejan (Pertusis)

Batuk rejan bisa membuat anak sulit bernapas, minum, atau makan; komplikasinya termasuk pneumonia, kejang, bahkan kerusakan otak. Vaksin DTP berhasil mencegah penyakit ini, menjadikan infeksi lebih ringan jika terjadi, dan menurunkan risiko komplikasi serius.

 

Rangkaian Imunisasi Penting

Anak biasanya menerima lima dosis DTaP (varian dengan pertusis akulusuler) antara usia 2 bulan hingga 6 tahun. Setelah itu, diperlukan vaksin Tdap sebagai booster ketika memasuki usia remaja, dan dilanjutkan jangka panjang dengan vaksin Td atau Tdap setiap 10 tahun.

 

Efek Samping Umum yang Umumnya Ringan

Setelah vaksinasi DTP, beberapa anak bisa mengalami reaksi ringan seperti nyeri atau bengkak di tempat suntikan, demam ringan, rewel, atau kehilangan nafsu makan. Reaksi serius sangat jarang terjadi, dan manfaat vaksin jauh melebihi risikonya.

Vaksin DTP adalah investasi penting untuk kesehatan anak. Dengan satu imunisasi, bisa mencegah tiga penyakit serius sekaligus. Efek sampingnya minimal, namun manfaatnya sangat besar: melindungi dari difteri, tetanus, dan batuk rejan, terutama di usia rentan. Pastikan anak mendapat jadwal imunisasi lengkap dan berkonsultasilah dengan dokter untuk memastikan perlindungan optimal.

 

Jika Anda mengalami gangguan kesehatan dan membutuhkan pengobatan segera, Anda bisa kunjungi Klinik Dharmahusada Premier untuk mendapatkan pengobatan dan penanganan yang Anda butuhkan.
Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa hubungi kami di:

0315921101
085233664118
Atau Anda bisa kunjungi Klinik Dharmahusada Premier di Jl. Raya Dharma Husada Indah No.26, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285




Klinik Utama Dharmahusada Premier merupakan klinik Utama yang berlokasi di area Dharmahusada. Dengan seluruh tenaga medis profesional, Klinik Utama Dharmahusada Premier menghadirkan pelayanan komprehensif yang meliputi perawatan promotif, preventif, dan kuratif. Segala tindakan medis ditangani oleh tenaga medis ahli dan berpengalaman, serta menggunakan teknologi yang modern.



Social Media


Facebook

www.facebook.com/dhpclinic


Twitter

@dhpcclinic


Instagram

@dhpclinic



Hubungi Kami


Whatsapp

085233664118


Telepon

(031)5921101


Email

klinik.dharmahusadapremier@gmail.com


Copyright by Markbro 2024. All rights reserved.

SLOT4D ASLIDOMINO Situs Game Online ASLIDOMINO ASLIDOMINO SLOT4D ASLIDOMINO SLOT QRIS Berkahpoker Aslidomino SLOT MAHJONG Aslidomino