Penyebab Anak Tertutup, Orangtua Wajib Tahu

1. Orangtua selalu menganggap anak sebagai anak-anak
Tentu secara usia sebagai orangtua kamu lebih dewasa dibandingkan anak-anakmu. Akan tetapi, bukan berarti kamu bisa terus menganggapnya sebagai anak kemarin sore. Dia akan terus tumbuh dan menjadi remaja hingga dewasa.Memperlakukan dia seperti anak-anak terus hanya akan membuatnya tidak diakui. Kalau sudah begitu, mana bisa anakmu merasa nyaman untuk terbuka sama kamu?
2.Malas dan acuh terhadap cerita anak
Giliran anaknya lebih aktif dalam berkomunikasi, kamu sebagai orang tua jangan sampai malah menunjukan respon yang malas atau acuh saat mendengarkannya bercerita ya. Seaktif apapun anak, jika sering kamu cuekin saat ia sedang bercerita, jangan heran kalau anakmu tidak akan lagi mau bercerita.Jangan pula kecewa kalau kamu selalu jadi orang paling akhir yang mengetahui tentang masalah apapun tentang anakmu.
Baca Juga: Peran Orang Tua dalam Stimulasi Anak
3. Menyepelekan pendapat anak meskipun masukannya ada benarnya
Merasa superior hanya karena posisimu sebagai orang yang lebih dewasa, itu sih salah besar. Jika demikian kamu akan terus meremehkan pendapatnya. Padahal bisa saja apa yang dia sampaikan ada benarnya juga. Terus disepelekan oleh orangtuanya sendiri seperti itu, jangan heran kalau anakmu jadi semakin tertutup dan takut berpendapat. Lebih lanjut, efeknya bisa membuat kepribadian dia menjadi tidak percaya diri, lho. Fatal juga kan!
4. Kurangnya Afeksi Kepada Anak
Afeksi adalah keterkaitan emisi atau perasaan pada anggota keluarga, baik secara negatif maupun positif. Afeksi terbaik yang harus ditunjukkan adalah afeksi positif. Afeksi jenis ini berisi hubungan yang hangat, memiliki kasih sayang dan sensitivitas. Orangtua dapat menjaganya dengan melakukan skinship pada anak. Walaupun kebanyakan anak usia puber mulai tidak nyaman dengan hal ini, tapi memberikan sedikit pelukan dan ciuman akan membuat sang anak memahami bahwa dirinya sangat berarti. Berikan juga pujian bagi anak seusai ia berpendapat atau berkarya sehingga ia lebih termotivasi untuk meningkatkan performa kerjanya.
5.Negative thinking
Anak bercerita, bukan untuk mendapat penghakiman atau vonis bersalah darimu. Ia kerap sudah menyadari betul jika bersalah. Justru anak berbagi cerita dengan harapan ia akan mendapat keberanian saat mengakui kesalahan, dan mendapat ‘suntikan’ motivasi dari orang tuanya agar hatinya bisa merasa jauh lebih baik.
Baca Juga: Tips Sukses Digital Marketing