Peran Orang Tua dalam Stimulasi Anak

Mempunyai anak yang bertumbuh dan berkembang secara optimal tentunya menjadi dambaan bagi orang tua, selain mencukupi kebutuhan nutrisi dan memantau tumbuh kembang anak setiap harinya,orang tua berperan dalam memberikan stimulasi untuk perkembangan anak, mulai dari stimulasi motorik halus, motorik kasar, bahasa, dan sosialnya. Anak yang secara konsisten diberikan stimulasi tepat sesuai usianya, tentu akan mencapai potensi tumbuh kembangnya secara optimal.
Lakukan stimulasi untuk perkembangan kemampuan kognitif, motorik, komunikasi, dan sosial, dengan cara:
- Kognitif
Kognitif merupakan kemampuan intelektual, seperti kemampuan membedakan suara, tekstur, mengingat, dan menganalisis masalah. Kemampuan kognitif dapat dilatih dengan mengajak anak bermain sambil belajar. - Motorik
Motorik mencakup kemampuan bergerak dan keterampilan koordinasi anggota tubuh. Anak yang bermasalah dalam kemampuan motorik mungkin akan kesulitan dalam belajar menulis, berenang, menggambar, menari, berbicara, atau melakukan gerakan yang memerlukan ketepatan, seperti menangkap bola. Melatih kemampuan motorik juga dapat dilakukan sambil bermain. - Komunikasi
Kemampuan komunikasi anak terkait dengan kemampuan menulis, membaca, dan menjalin hubungan interpersonal, baik saat ini maupun saat dewasa nanti. Cara melatih kemampuan ini yaitu dengan mengajak anak bicara, menyanyikan lagu, dan membacakan dongeng, bahkan sejak Si Kecil hanya mampu berkomunikasi dengan cara tersenyum atau menangis. - Sosial
Merangsang kemampuan sosial anak bisa dilakukan dengan cara membiarkan anak bermain dengan anak lain, dan mengajarkan anak mengenali serta mengendalikan emosi. Berbagai permainan yang melibatkan imajinasi juga dapat menstimulasi kemampuan ini, misalnya bermain boneka dan masak-masakan.
di luar itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menstimulasi anak:
Baca Juga: Tips Agar Bayi Cepat Merangkak
1. Stimulasi bertahap sesuai umur
- 0-3 bulan: paparkan dengan suara, misalnya lewat suara ibu dan ayah atau musik. Aktivitas menyusui, sentuhan, pelukan, kontak mata, dan senyuman juga akan membantu. Perlihatkan mainan berwarna terang atau hitam-putih yang bergerak/berputar.
- 3-6 bulan: panggil nama anak, ajak bermain, ajak bercermin, dukung bayi untuk tengkurap, tarik tubuh bayi ke posisi duduk.
- 6-9 bulan: ajari melambaikan tangan, tepuk tangan, bersalaman, menunjuk benda, duduk.
- 9-12 bulan: ajari anak untuk mengucapkan kata-kata ‘mama’, ‘papa’, ‘bobo’, dan ‘mimi’. Ajak berdiri, memegang cangkir dan minum dari cangkir, atau meniru tindakan.
- 12-18 bulan: ajari menunjuk gambar, mengombinasikan kata, menyusun kubus secara vertikal, menggunakan sendok. Ajak secara bertahap untuk berjalan, naik tangga, berlari-menendang bola.
- 18-24 bulan: ajari untuk menyebutkan nama gambar, nama bagian tubuh, serta nama aktivitas sehari-hari. Ajak mencuci dan mengeringkan tangan, memakai pakaian, menggosok gigi.
- 2-3 tahun: anak distimulasi untuk dapat menyebutkan nama saudara atau temannya, menyebutkan warna, mengenal kata sifat, menghitung mainan, membuat garis vertikal mengikuti contoh, menggosok gigi, serta membantu pekerjaan rumah.
- 3-5 tahun: toilet training, menggambar lingkaran/persegi mengikuti contoh serta mulai kenalkan pada huruf dan angka. Stimulasi untuk dapat menyampaikan pendapat dan berdiskusi mengenai suatu hal sederhana, misalnya cerita pendek.
2. Observasi kemampuan anak.
memerhatikan perilaku dan kondisi anak ketika bermain. Hal ini penting karena bisa untuk memantau perkembangan kemampuan motorik anak. Jika nantinya membutuhkan bantuan, Moms dapat mendiskusikan dengan ahli melalui screening tumbuh kembang anak.
3. Waktu
Perkembangan otak terpesat terjadi sampai usia dua tahun. Pada masa ini stimulasi sangat penting. Stimulasi harus dilakukan setiap hari dan sesering mungkin. Lakukan saat anak dalam kondisi nyaman; misalnya: saat anak tidak sedang lapar, haus, atau mengantuk.
Baca Juga: 5 Kesalahan Penyebab Bisnis Gagal